Cerita dibalik foto

Dirgahayu ke 483 Jakarta


Sebagai warga yang lahir dan besar di kota ini, saya coba sedikit merefleksi. Rangkaian acara untuk memeriahkan ulang tahun kota Jakarta yang ke 483 pada tanggal 22 Juni ini, pada intinya adalah gebyar Jakarta dengan berbagai promosi budaya hingga great sale dan pesta kembang api. Menarik memang, apalagi pas masa-masa liburan sekolah seperti ini.

Baru-baru ini bersama suami saya berada di seputar ‘Kota’ mencari obat Cina di Pasar Pagi. Tanpa rencana kami mampir ke beberapa tempat di seputar Kota Tua, yang telah memberikan sedikit banyak cerita perkembangan Jakarta dari masa ke masa. Mencoba mengenal lebih dekat pelosok kota, meski tempat ini sudah amat sering saya lewati tapi saya mencoba merasakan kembali aura masa lampau di kota tercinta ini.

Mengamati dari dekat gedung-gedung tua yang Lanjutkan membaca “Dirgahayu ke 483 Jakarta”

Serba serbi dunia pendidikan

Hasil UN Ulang yang mengejutkan.


Siapa yang tidak senang siswanya lulus 100% ? Tentu saja menjadi impian semua sekolah dan guru. Hasil UN susulan sudah di umumkan, dan murid2ku lulus 100 %. Senang, ya sudah pasti. Tapi tidak dapat dipungkiri, jika dicermati ada kegundahan di hati kami. Masa’ iya anak2 yang sebenarnya gak mampu tapi bisa lulus dengan nilai mengagumkan, tapi anak yang kita tahu memiliki kompetensi yang baik dalam 4 pelajaran UN, nilainya hanya pas2an.

Yang langsung lulus, memang umumnya anak yang memiliki kemampuan. Selebihnya adalah anak yang pas2an. Sementara mereka yang tidak lulus kemudian diberi kesempatan untuk ujian ulang, ternyata nilai mereka jauh lebih tinggi dari mereka yang lulus tanpa mengulang. Hasil UN mereka dari ujian ulang kok jadi menjulang, sehingga lebih banyak peluang untuk di terima di negeri.

Apakah mereka yang lulus pertama bisa dikatakan lulus murni dan mereka yang lulus pada ujian ulang nilainya sudah dikatrol sedemikian rupa ? Jika demikian menjadi sangat tidak adil, karena hasil UN yang lulus tanpa mengulang nilainya lebih kecil, Banyak diantaranya yang tak terjaring masuk ke sekolah negeri, padahal banyak diantara mereka yang sebenarnya pintar. Tapi yang ujian ulang justru banyak yang diterima di negeri. Apakah yang ujian ulang ini mendapatkan nilai konversi atau katrolan? Padahal kita tahu hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan kenyataan. Sayangnya guru tidak terlibat dalam hasil kelulusan UN, sepenuhnya menjadi wewenang negara.

Kasihan anak-anak pintar yang lulus bukan karna mengulang, nilainya jadi relatif lebih kecil dibanding anak-anak yang mengikuti ujian ulang. Semoga kelak mereka sukses dimananpun mereka melanjutkan pendidikannya,  Amiin…

Salam hangat & Semangat

Jakarta, 2 Juni 2010

Etty Lismiati