Serba serbi dunia pendidikan

Pengajaran yang Effektif


Sebelum mengajar, atau terjun di dunia pendidikan, baik formal maupun non formal, guru seharusnya sudah siap dengan bekal pengetahuan psikologi anak maupun kemampuan mengelola kelas. Dari pengalaman mengajar dengan berbagai strata sosial siswa, saya melihat ada korelasi yang berbanding lurus antara kompetensi guru dengan kemampuan mengelola kelas. Maksud saya, jika guru mempersiapkan diri dan menguasai materi dengan baik, maka kelas pun dapat dikelola dengan baik.

Anak sekarang jauh lebih kritis dibanding ketika tahun-tahun awal saya mengajar dan menjadi guru, lebih dari dua dasawarsa yang lalu. Sudah bukan jamannya lagi gurugdihadspan siswa menempatkanm dirinya sebagai sosok yg serba tahu. Saat ini mereka dapat memperoleh pelajaran dari manapun, apalagi dengan perkembangan teknologi dan “Mbah Google”  yang bisa dijadikan tempat bertanya apapun dan kapan pun. Tidak ada sekat ruang dan waktu. Aplikasi dari berbagai materi pelajaran pun dapat mereka peroleh di luar kelas. Bahkan melalui sebuah aplikasi seorang siswa dapat menghitung soal matematika yg rumit, tinggal menggunakan kamera di hp lalu  memfoto soal, dlm bbrp detik muncul jawabannya di hp lengkap dengan cara dan penjabaranya.

Mudahnya belajar dan mencari informasi di internet, kadang guru disodori pertanyaan tak terduga dari siswa. Dari hal-hal sederhana hingga yang luar biasa. Jika guru tidak rajin meng’up date” diri, menambah wawasan dan mengembangkan kompetensi, dapat dipastikan guru akan tergilas situasi. Jika guru tidak melakukan inovasi, siswa akan mudah menjadi bosan dgn metode dari itu ke itu lagi…

Siswa yang kreatif bisa mengganggu kelas, yang pendiam akan menunjukkan sikap tak perduli dan malas. Tragisnya, siswa bertipe ekstrovert dan”petakilan”kerap terlanjur di beri label buruk sebagai pengganggu ketenangan kelas.

Pendidikan modern sudah seharusnya lebih menitik beratkan pada pengembangan potensi anak. Bukan lagi mencekoki anak dengan materi pelajaran dan memaksa mereka manut dan diam

Sudah semestinya guru menguasai berbagai metode pengajaran, dan menerapkannya sesuai dengan karakter kelas dan lingkungan anak, sehingga ada interaksi yang membuat suasana kelas lebih dinamis. Jaman berubah, metode usang yang mengandalkan pendekatatan kekuasaan harus segera di tinggalkan. Mencatat di kelas apa yang sudah ada di buku teks, ini buang waktu. Merasa paling hebat di kelas, mengkritik anak dengan pedas, atau pasang wajah galak untuk menunjukkan power, adalah sebuah pengajaran yang sama sekali tidak efektif. Ini tentu saja akan matikan kreatifitas anak. Dan yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana mengajarkan mereka menjadi seorang berilmu yang dapat mengkritisi apapun secara santun.

Memang teorinya gitu, keliatan mudah dicerna. Namun ketika kita menghadapi situasi yg dituntut untuk lebih sabar, kadang guru pun tak luput dari hal-hal minor yang sebenarnya bisa dihindari meskipun memang itu satu hal yg manusawi. Jutek, ketus dan emosi, tergantung kemampuan pengendalian diri. Tapi itu bisa dipelajari. Dengan terus melatih diri, dan menempatkan motivasi menjadi guru sebagai bagian dari ibadah. Insha Allah, lebih mudah. Kuncinya ikhlas, ikhlas dan ikhlas….hal-hal yg menjengkelkan tak perlu membuat kita susah.

Salam Hangat dan Semangat

Jakarta, 5 Desember 2011

Etty Lismiati