Cakrawala

Keseimbangan


link gambar : http://cdn.webecoist.com/wp-content/uploads/2010/12/balanced_rocks_1x.jpg

Bekerja itu untuk 2 tujuan, untuk memenuhi kebutuhan fisik dan untuk kebutuhan jiwa. Keduanya menjadi satu paket dalam keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika kita beruntung memiliki pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan, mampu mengekspresikan diri sesuai  bakat dan keterampilan yang dimiliki dan melayani orang lain dengan sebaik-baiknya, tentunya pekerjaan menjadi sebuah kesenangan. Kita merasa enjoy mencurahkan segenap perhatian, tenaga, dan pikiran untuk pekerjaan. Rasa senang menghasilkan kepuasan batin sehingga kadang kala saking asyiknya kita mengabaikan hak-hak yang dimiliki anggota badan, yaitu istirahat dan makan.

link gambar : http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQiXYC6T4BYePteDOz98tXAdql5NJbuB_sFQtt74bkOXQxuSSW5fg

Orang yang bekerja juga memerlukan pengakuan dan penghargaan agar hidup lebih bergairah, dan ini hanya bisa diperoleh kalau kita telah mampu menyalurkan kompetensi tertinggi yang kita miliki. Juga mampu memberikan nilai tambah yang sebesar-besarnya bagi orang lain. Kalau asupan gizi bagi jiwa melalui eksistensinya dalam pekerjaan telah terpenuhi, jangan sampai asupan gizi untuk raga menjadi berkurang. Makan dan istirahat deh kuncinya, semua dengan takaran cukup, sesuai irama biologis masing-masing orang. Dalam berbagai hal, kuncinya adalah keseimbangan. Oke, selamat rehat semuanya, semoga besok kita bisa beraktifitas lagi dengan energy baru.  Good Night !

Salam Hangat dan Semangat 🙂

Jakarta, 13 Desember 2011

Etty Lismiati

Serba serbi dunia pendidikan

Budaya Sekolah dan Implementasi Pendidikan Karakter.


Faktor yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial. Seorang anak memiliki waktu yang cukup banyak untuk berada di lingkungan sekolah atau berada di luar sekolah  bersama teman2 satu sekolah.

Budaya sekolah  yang akan dikembangkan melalui pendidikan karakter ini, mestinya diawali dengan pembinaan karakter guru. Menjadi karakter yang benar2 pantas di gugu dan di tiru. Pengembangan budaya sekolah akan menjadi efektif jika  di dukung oleh sistim yang sudah dirancang dengan baik, sehingga suasana kondusif yang tercipta  menghasilkan kesesuaian norma-norma  yang dapat dikembangkan oleh semua unsur sekolah.  Iklim kerja yang baik menciptakan etos kerja yang baik.  Jangan sampai terjadi di suatu sekolah guru-guru yang memiliki dedikasi dan etos kerja, menjadi seperti makhluk aneh, seolah jadi “kerajinan sendiri”.  Ini artinya budaya sekolah belum berjalan dengan baik, yang berimbas pada pendidikan karakter tak akan berjalan dengan efektif.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan karakter di sekolah,  tidak bisa lagi hanya “memberi contoh”  tapi harus bisa “menjadi contoh”.  Misalnya memberi contoh keuletan orang-orang sukses, sementara  di mata siswa sang guru menunjukkan kerapuhannya.  Menyuruh anak-anak gemar membaca, sementara  tugas  siswa  saja jarang diperiksa, apalagi membaca tulisannya.  Mengoreksi hasil kerja siswa sudah gak sempat lagi,  tapi masih punya banyak  waktu untuk ‘ngerumpi’.

Memang gak gampang  ya jadi guru, sebuah profesi yang terlanjur dibingkai Lanjutkan membaca “Budaya Sekolah dan Implementasi Pendidikan Karakter.”