Cakrawala

TUKANG BUAH

 

Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang buah numpang berteduh didepan gerbang rumah. Gerbang ini bagian atasnya sengaja diberi atap genteng sekitar 1 meter diatas kepala. Jika berdiri di depan gerbang dengan pintu geser ini, memang agak terlindungi dari panas atau hujan.

Beberapa meter dari gerbang, saya duduk di teras sambil ngobrol pakai jempol dengan teman-teman di grup WA.  Yap! Bersosialisasi di era digital, menembus batas ruang dan waktu. Pola komunikasi ini tak terhindari, seiring mudahnya akses internet dijaman ini, dan maraknya sosial media terutama didekade terakhir.
WhatsApp Image 2020-02-17 at 14.03.05
Sejenak saya mengamati tukang buah itu  tanpa dia tahu. Posisi saya duduk terhalang pepohonan di sekitar teras. Tapi saya dapat mengamati tukang buah itu dengan jelas.

Seorang bpk usia 60an, yang hidupnya seolah tanpa beban. Dibalik peci hitam yang terlihat lusuh, menyembul ramputnya yg mulai memutih. Entah bagaimana pedagang buah ini dapat membawa dagangannya melalui jalan dengan  kontur tanah yang naik turun seperti ini, pasti berat sekali. Jarang orang lewat jam segini apalagi hujan begini. Minggu pagi orang lebih suka menghabiskan waktu di rumah sambil nonton tv atau asik tenggelam di dunia maya.  Atau  bisa saja  bergelung selimut tebal di kamar. Bogor dimusim hujan memang lebih dingin. Suara rintik hujan semakin jelas. Air mulai tergenang di sela2 batu besar di dekat teras. 

Sampai jam 10 hujan blm berhenti. Saya mulai risau karena jalanan sepi gak ada pembeli datang mendekati tukang buah. Dengan payung saya pun melangkah.

Masih penuh gerobaknya. Buah-buah tertata rapi. Ada beberapa  pepaya ukuran sedang. Yg terbanyak adalah manggis karena memang lagi  musimnya. Sepanjang perjalanan ke Bogor dalam 1 bln terakhir, banyak pedagang manggis yang berjajar di kios-kios buah hingga di  mobil bak terbuka yg terlihat disepanjang Dramaga-Ciampea.

Selain pepaya dan manggis, dia jg membawa buah naga merah. Sebagian sudah dibelah, dan dibalut rapat menggunakan plastik. Mungkin ini buah naga yang masih bisa diselamatkan karena yang busuk harus dibuang.

Saya lihat dia membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Dia tekun dengan Al-Qurannya. Tukang buah ini baru menyadari kehadiran saya ketika pintu gerbang saya geser.

Saya beli 3 kg manggis, dua buah pepaya yang cukup besar dan beberapa buah naga yang masih baik. Entahlah nanti siapa yang makan, krn hanya ada saya dan suami di rumah ini. Bisa juga ini kesempatan berberbagi  tetangga sebelah nanti. Hanya sabtu dan minggu saja saya ke Bogor untuk sementara waktu ini. Kesempatan sosialisasi ke tetangga jadi jarang.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. “Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.

“Aamiin,” kata saya

“Kalau gak habis gimana, Pak?”

“Kalau gak habis ya risiko, Bu.., yg masih baik dijual lagi besok dgn harga lebih murah atau kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada busuk dan kebuang. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah. Buah manggis lebih tahan lama, yang masih bagus bisa disimpan, katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanya saya lagi.

“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa…” Katanya sambil tersenyum.

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…” lanjutnya.

“kalau gak dapet uang gimana, Pak?”

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Kan Allah yang ngatur rejeki. Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan buah belum pernah kelaparan.

“Pernah sih gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan ..Makasih yaa Bu…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.

Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan…
img_20200209_064544

Sambil mencicipi buah manggis satu persatu, saya termangu. Tukang buah telah membuat saya malu….. Malu pada yang Maha Baik Pemberi Rezki…

Ciampea, 17 Februari 2020

salam hangat penuh semangat

 

Etty Lismiati

 

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s