Serba serbi dunia pendidikan

JUJUR vs CURANG


Membaca isi hati dan kegelisahan salah seorang keponakanku , Tami yang di tulis di blognya sendiri mengenai fenomena kecurangan dalam UN, memang menarik dan mengusik. Membangkitkan kembali harapanku bahwa masih banyak generasi penerus bangsa ini yang tetap memegang teguh nilai-nilai kejujuran ditengah derasnya arus degradasi dan pendangkalan nilai-nilai pendidikan. Sebagai seorang guru, saya pun terusik dengan kenyataan memalukan dunia pendidikan ini. Setelah sekian lama Continue reading “JUJUR vs CURANG”

Serba serbi dunia pendidikan

Hasil UN Ulang yang mengejutkan.


Siapa yang tidak senang siswanya lulus 100% ? Tentu saja menjadi impian semua sekolah dan guru. Hasil UN susulan sudah di umumkan, dan murid2ku lulus 100 %. Senang, ya sudah pasti. Tapi tidak dapat dipungkiri, jika dicermati ada kegundahan di hati kami. Masa’ iya anak2 yang sebenarnya gak mampu tapi bisa lulus dengan nilai mengagumkan, tapi anak yang kita tahu memiliki kompetensi yang baik dalam 4 pelajaran UN, nilainya hanya pas2an.

Yang langsung lulus, memang umumnya anak yang memiliki kemampuan. Selebihnya adalah anak yang pas2an. Sementara mereka yang tidak lulus kemudian diberi kesempatan untuk ujian ulang, ternyata nilai mereka jauh lebih tinggi dari mereka yang lulus tanpa mengulang. Hasil UN mereka dari ujian ulang kok jadi menjulang, sehingga lebih banyak peluang untuk di terima di negeri.

Apakah mereka yang lulus pertama bisa dikatakan lulus murni dan mereka yang lulus pada ujian ulang nilainya sudah dikatrol sedemikian rupa ? Jika demikian menjadi sangat tidak adil, karena hasil UN yang lulus tanpa mengulang nilainya lebih kecil, Banyak diantaranya yang tak terjaring masuk ke sekolah negeri, padahal banyak diantara mereka yang sebenarnya pintar. Tapi yang ujian ulang justru banyak yang diterima di negeri. Apakah yang ujian ulang ini mendapatkan nilai konversi atau katrolan? Padahal kita tahu hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan kenyataan. Sayangnya guru tidak terlibat dalam hasil kelulusan UN, sepenuhnya menjadi wewenang negara.

Kasihan anak-anak pintar yang lulus bukan karna mengulang, nilainya jadi relatif lebih kecil dibanding anak-anak yang mengikuti ujian ulang. Semoga kelak mereka sukses dimananpun mereka melanjutkan pendidikannya,  Amiin…

Salam hangat & Semangat

Jakarta, 2 Juni 2010

Etty Lismiati